Dewi senja

Hai sore.. Apakah kau sedang asyik menikmati es krim vanila yang tumpah ruah di langit nan jingga ?

Walau di bawah senar mega yang sama, kita ternyata tak bisa bersama

Alunan kesedihanku hanya sampai petang, jangan biarkan mengulang bagai jaket kusut pemberianmu kala senja dihiasi hujan waktu itu

Mungkin..
Sedikit resah nan lelah
Lama bahkan menua
Memendam rasa tak bernama
Tanpa dikau rela menerka

Mungkin saat itu (nanti)..

Bukanlah aku yang akan mencurimu dari ayah dan bunda, sebagai sekapan cinta yang kupeluk atas nama tauhid, terikat mesra setelah kata sah di teriakan saksi yang ada

Astaga, mimpiku?

Iya memang ini bukan impian, ini hanya bunga tidur siang bolong kemarin, tapi hari ini juga sama, bahkan setiap hari kutiduri mimpi aneh itu, kusimpan dibawah bantal, ah bahkan bantal pun tertulis namamu

“Dewi senja” penguasa yang selalu bertahta disetiap senjaku dulu

Jingga mega tetap seindah ini

Tapi kamu tak lagi disini

Airmataku? Kemana kamu? Dulu airmatamu yang kutegarkan dengan kekokohan bahuku kan? Iya sandaran yang kini bukan lagi hunian pilihan

Dewi, aku kalah.. Aku pulang saja, kembali mengurung diri di tempat tersepi

Walau sebelumnya ku tau.. Selain dewi senja, engkau jua menyandang gelar “Putri Kesepian”

Ah itulah predikatmu dulu yang kuganti dengan gelar dewi senja bukan?

Astaga, jika di kesepian saja kau ada, lantas apalah dayaku mencoba melupa?

Untuk berhenti memupuk rindu dalam kantuk yang tak pernah terlelap

Senja, tolonglah dewimu

Sepi, bunuhlah dia

Aku siapa? kamu siapa?

Pun tak terjawab oleh gumam sekalipun

Karena yang biasa menyapaku dengan syahdu, itu .. Kamu

Assalamualaikum sang Perindu Dewi Senja.. kok murung? Jelek loh hidungnya”

Lalu menghancurkan tatakan rambut yg sedari tadi ku rapihkan

Aku ? Responku?

Datar !

Bukan karena tak peka, tapi karena tak mengerti

Bagaimana bisa aku dicinta dengan begitu tulusnya? Dibalut kasih yang begitu indahnya?

Olehmu yang kini kian meniada

Seperti itulah wujud sebenarnya dari diamku (dulu), kaku kumelihat dan menikmati mata lugumu

Lihat Dewi, momen kecil di pertemuan tak di sengaja itu masih kuingat dengan jelas

Sayang sekali, disengaja atau tidak kini takkan pernah lagi ada temu

Yang ada hanya kumpulan kisah sederhana, beserta ekspektasi melangit yang begitu rumit untuk sekedar menghilang dari ingatan

Kutahu ini hanya ilusi, tenang ku tak pernah berniat mengusikmu

Sebab sejatinya kau tak ada

Hanya sebentuk lukisan indah dalam hayalan, yang takkan pernah mau berubah menjadi nyata

-AIM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close