Guyonan atau gumpalan cinta?

Hari ini. Pertama kali ku kan ceritakan dengan rinci setiap jengkal tawa

Yang ujung pangkalnya ternyata luka

Yaa luka yang kembali menjadi alasanmu, menitihkan airmata

Air hati yang susah payah kuperjuangkan

Untuk sekedar menghapus, atau sekedar melihat dan memandang penuh kehancuran

Sekedar tahu saja, sudah berkali kali aku menjadi penyebab air mata menetes di pipi seorang yang selalu tersakiti, jarang merasa dicintai oleh sebab tempramental yang kata mereka berlebihan

Ini ? Iya ini aku..

Sayangnya, mereka lupa, bahkan kadang tak pernah tahu sekalipun telah kujelaskan

Bahwa aku juga terluka saat menemukan berlinang kesedihan, ingin menutup setiap luka dengan kuncian peluk

Tapi..

Selalu pipi manis itu seakan berdarah dihiasi airmata

Pelukku tak tegar, rinduku tak mampu

Rengkuhan kata penuh ketenangan, takkan mampu ..

Entah aku yang terlalu sukar memahami keinginanmu, atau kau yang menaruh ekspektasi terlampau tinggi padaku

Hingga tak jarang, kita susah payah membungkus derita dalam tawa, agar perpisahan semakin cepat terucap

Ahh kenapa dia lagi, sampai lupa..

Ini tulisan tentang kamu..

Ya aku bahagia

Kini, seusai ratusan hari berselang

Aku sembuh seutuhnya, hari-hari ku bisa diisi teman baru, selain duka dan kesepian

Ini yang kunanti sedari pisah dengannya

Kau.. tak tegambarkan dengan kata

Tapi yaa kita ibaratkan saja seperti malam..

Bukan, jangan pikir kini aku membenci mentari, namun adakalanya kita harus memberikan waktu pada malam memamerkan segala paradenya

Gemintang hingga senyuman sabit rembulan, sangat jarang ternikmati…

Sayangnya, aku terlalu banyak begadang,tak beristirahat karena takut akan cahaya

Diruang kamar yg berantakan itu bahkan, aku jarang menghidupkan lampu

Guna mengingatmu, karena senjaku kini.. mendapat sapaan tulus, titisan kata sang gemintang yang bergemuruh dalam hati

Bagaimana bisa kedewasaan serta seluruh angkuh luluh

Luluh pada anak yang mungill

Terpaut tinggi badan, bersaut hati menuju padan..

Iya kata orang cinta buta akan segala, termasuk rupa

Mengapa semesta ? Mengapa dia ?

Aku menerka ketidakpastian dalam beku senyuman yang selalu membuat mereka pun ikut termenung sesekali tertawa saat aku melucu

Tak jarang menunduk, saat marahku melagu

Aku bingung

Kejujuran telah sama kita utarakan dalam rasa tertarik yang memagut hati untuk dekat serta terpaksakan sepi untuk rekat

Aku bingung..

Jujur, ini bukan tulisan orang yang sedang riang, melompat-lompat diberanda kala tau ia merasa sama.. sama suka

Ah kembali aku tak berhenti menerka

Waktu demi waktu pun bersumbangsi mendekatkan, memaksa kita duduk berhadapan

Menikmati mata polos, menonton tawa sang bidadari penyejuk derita yang menepi

Aku seakan lupa cara bicara, ketika dia sedang berkata-kata

Kata tentangku?

Bukan…

Acap kalipun airmata..

Yang tadi kukatakan paling ku tak suka berair dimatanya..

Lambat laun aku mulai merasa, bahwa nantinya

Jika aku persembahkan rasa, dia hanya akan menuai derita

Pesimis dalam mencinta ?

Haha kurang cukup sakit hati yang terlanjur terbeberkan dan diceritakan melalui buku yang kau pinjam?

Ini aneh adik.. aku merasa takut

Takut yang luarbiasa, aku takut kamu pergi

Seringkali, kutemani juga..

Bahkan aku dengan penuh tenaga berjuang, mematikan syaraf tangan, yang sangat berhasrat menyapu segala airmata

Cerita tentangku?

Kali ini beda, kau terluka..

Masih dalam proses sembuh

Benar, kita sama-sama dikutuk sebagai kaum perasa yang sentimental

Luarbiasa kan bercandanya semesta ?

Aku yang bertopeng tawa, bertemu dengan dia..

Sosok mungil bermandikan luka, basah selalu hijabnya karena airmata masa lalu

Tugasku? Tak kurasa berat jika hanya untuk menjadi pendengar yang baik akan semua cerita ceriamu, apalagi sekedar menyumbang solusi dalam celelegan rindu yang selalu kau bawa kemanapun

Iya, mungkin dia meluluhlantahkan duniamu saat itu

Ini mudah . Tenang saja

Waktu berlalu, cerita berganti

Adalah kau dan aku, yang terlampau sibuk bercanda, seakan lupa bahwa batin sedang berpeluk rasa

Rasa yang sama..

Setidaknya ku tak sendirian merasakannya, aku bahagia setengah mati hari itu

Tapi, tak mungkin semudah itu kan?

Yaa tugasku tertambah.. mengusaikan ingatan tentangnya

Tuhan, sementara aku saja butuh ratusan hari, entah apakah cara mencintai kita sama

Namun yang kutahu, luka yang berdarah tak pernah membiru, pasti pasi kemerahan

Airmata itu pun kukenal, itu persis seperti airmataku

Malamku, aku lelah.. aku ingin tidur dipelukan kecilmu, aku ingin pulang pada hatimu..

Bukan masalalumu saja yang harus kubunuh, aku pun ingin dipelukmu

Dekap aku, manja aku seperti cerita cerita mereka, bahwa kau adalah penyayang dan perasa yang begitu baik…

Malamku.. aku lelah, dengan segala ambigu rasa yang kita senantiasa pupuk

Petik saja rasa yang telah ranum diujung setiap tawa kita

Katakan dengan pasti apa yang hatimu mau

Keberaniankah itu? Aku ragu

Ketakutanmu masih nampak

Aku melihatnya, sabit senyummu masih ada yang kurang

Keikhlasan. Ya hal yang tak terasakan lagi, mungkin semenjak patah.. ah aku tak tau

Resahpun berkawan

Hatiku adalah lawan

Lihat kecewa yang sibuk menertawakanku

Aku terlanjur, padahal meleburpun engkau tak mau

Entah ini bernama

Ataupun selamanya

Terdalam jiwa menyuruhku disini

Dan aku akan setia menunggu

Kapanpun, dan sampai bagaimanapun bentuknya

Hatiku, adalah hati

Iyaa sayang, rumahmu.

Pulang ketika kau perlu atau ingin terlelap

Niscaya pelukku, takkan pernah lebih membahagiakan kecewamu dibanding saat ini

Tolong jangan menangis, cukup saja..

Ini aku, untuk kita

Berikan hatimu agar tuntas

Teka teki ini, akan ku menangi

Bersamamu

Bahagia adalah perjuangan terberat setelah membunuh masalalu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close