Sendirikah aku? [Jelita I]

Tengah malam itu, dini hari abu-abu

Hujan turun diluar jendela, derai airmata pun lebat dipipi Jelita

Ia tersedu-sedu dalam tangis pilu

Tembok menatapnya tak tega, jendela masih terbuka

Dingin yang dibawa hujan, tanpa segan mendekat

Masuk melewati rongga, ingin membelai penuh duga

Terhentak! ketakutan melihat Jelita yang sedang membara mengutuk kenyataan

Mengapa baik bagiku, selalu buruk bagi kalian?”

“Jika aku tak baik, mengapa kalian tak membantuku menjadi baik?”

“Jelaskan padaku apa arti baik itu!”

Tanya-tanya Jelita

Pada gulita yang membuta

Meringis, tangis belum juga terhenti

Meringkih, kedua tangan menutup muka yang tengah kuyup

Menyumbat aliran airmata, membungkam jeritan derita

Ada secuil damba yang tersisa

agar peluk itu kembali membersamai hati yang terlampau letih

Ibu..

“Bunuhlah anakmu ini yang tak tau batas akan merindu, yang masih cengeng tanpa pelukmu!”

Meski ia tak tau, apakah kematian akan mampu mempertemukan mereka

Dan juga ia tak tau

Tentang berapa raga yang akan ikut mati bersamanya

Seiring hujan yang mereda

Isak tangis pun merendah

Tepat pukul tiga, ia beranjak

Menghela nafas panjang, coba menenangkan tangisan

Membuka pintu, menuju mata air

Membasuh segala airmata dengan air suci

Kemudian, Jelita kembali ke ruangan itu

Menutup jendela bersama hati yang ingin lega

Bergegas mengenakan mukenah berwarna jingga

Menggelarkan sajadah usang warisan Ibu

Entah apa yang membawanya ingin bertemu Tuhan kala itu

Mungkin.. Ia ingin menumpahkan segala luka dalam cerita

Melangitkan doa, yang tak lagi betah membumi bersama airmata

Tahajud pun didirikan

Seusai salam, rapat kedua tangan terbuka menengadah keangkasa

Mata terpejam menahan airnya

Sanubari bercerita

Bisu menjadi saksi

Di ujung setiap kata

Semesta turut mengamini

Doa usai, cerita dini hari itupun selesai

Selesai untuk ia mulai menghadapi

Segalanya, semampunya

Ranjang siap memeluk erat segala lelah

Ia pun rebah dan terpejam

Senyuman kecil hinggap di akhir malam

Hatinya berbisik

“Ternyata aku tak pernah sendiri”

Tembok dan jendela ikut tersenyum melihatnya

Jelita telah siap menyambut pagi

Mencoba berdamai dengan hari

——————————————————-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close