Dimana peluk ayah? [Jelita II]

Malam yang dingin, Bunda demam. Tak hanya itu, tekanan darahnya naik, kondisi tubuh semakin tidak stabil. Maklum saja Ia telah akan menginjak usia 61, tahun ini. Setelah meyuapi beberapa sendok bubur, dan menyiapkan obat serta kompresan kepala untuk Bunda, Jelita terlihat agak tenang. Baru beberapa hari berlalu, Tahun yang baru bagi Jelita, namun selalu sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya, rasa kecewa, dendam serta segala amarah tersusun rapih di dalam hatinya.

Angin malam meronta diluar pintu rumah, eksistensi desember masih terasa, cuaca tak begitu buruk namun tak juga bisa dibilang baik. Jelita begadang (lagi), bukan untuk hal yang tak penting. Bisa jadi ini adalah hal-hal baik yang mampu diberikan Jelita untuk Bunda, mengingat betapa seringnya Ia mengecewakan serta menghianati segala kepercayaan yang diberikan Bunda, namun hakikat memaafkan seorang Ibu, memang tak dapat di definisikan. Tak jarang kita tak mampu menjadi anak yang baik, namun dalam waktu yang sama, kita selalu diperlakukan sebagai anak terbaik.

Pukul 05:00 pagi, Jelita baru bisa lega beristirahat setelah melihat Bunda telah pulas tertidur. Ia hanya punya waktu beberapa jam untuk tidur, sebelum bangun dan harus menyiapkan segala keperluan rumah, Bunda sakit, tugas mulai dari masak sampai menyapu halaman harus digantikan oleh Jelita, tentunya. Sebelum sampai memijak di dunia mimpi, embun duluan membasahi matanya. Ada pertanyaan yang kian merobek-robek nurani.

Dimana peluk seorang Ayah? Apakah pantas disebut Ayah laki-laki itu? Yang pergi meninggalkan aku dan Bunda, tanpa kepastian akan kembali ataukah tidak”

Bunda yang tidur di samping Jelita berbalik badan sembari erat memeluk bantal guling, spontan Jelita menghapus airmatanya, ia memang salah satu gadis yang tak mau kelihatan lemah dimata siapapun. Sembari menyembunyikan tangis dan sesak dalam dada, ia mencoba lelap.

Hari yang panjang, dan masih juga matanya memiliki alasan untuk berair, seperti hari-hari sebelumnya.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Dimana peluk ayah? [Jelita II]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close