?

Seharusnya, waktu yang telah dilalui cukup untuk mengajarkan segala hal. Baik itu tentangmu untukku, ataupun tentangku untukmu. Tapi di bumi yang tengah kita pijaki ini, banyak keharusan yang di khianati dalam kata-kata manis, dan yang terpasti tak akan ada hal yang cukup untuk setiap mahluk bernama manusia. Benar bukan?

Terlampau sering kau utarakan segala cemas, sementara kau tak tau bahwa aku sebenarnya berada di sisi yang berlawanan dengan arahmu, selatan yang meneduhkan sambil memandangmu yang sedang semangat menumbangkan pohon kepercayaan dengan benda yang sangat tajam, ragu. Tak sadarkah kau bahwa setiap asumsi serta setitik saja keraguan dapat berakibat fatal dalam hal ini?

Ketika kau lebih ingin mengerti atau setidaknya coba memahami tentang suatu hal, dibanding memandang realita dengan begitu negatif, akan lebih mudah untuk merasa bahwa sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang semua ini. Dan juga, rasa-rasa yang tak perlu lagi ditanya harusnya disudahi saja. Kau gaungkan keniscayaan pada hal yang telah nyata, apa gunanya?

Jangan jadikan bahan perbandingan tentang bahagiamu kemarin dengan kecewamu hari ini. Belajar dan tetaplah berjalan maju menuju keberhasilan. Tenanglah, jika harap kita memang sama, jalan usaha yang berbeda akan membuat kita bertemu di satu persimpangan, kuharap saat kita bertemu nanti tak ada tangan lain yang sedang menggenggam tanganmu. Itupun jika bertemu, jika tidak?

Kau menuntut aku menjelaskan. Sementara tak setiap kata dapat mewakili rasa, kau paham betul hal itu. Ketika aku menjadi diam seribu bahasa, itu artinya ku punya ratusan kata yang tak mampu mewakili rasa, haruskah aku menceritakan kelamnya nurani saat ini? Aku sama sekali tak ingin menyeretmu di tempat yang kelam itu, mungkin bisa kau katakan bahwa kita telah satu, tapi masalah kita tetap mempunyai kadar dan takaran yang berbeda bukan?

Benar halnya bahwa aku telah cukup dewasa untuk menghadapi masalah yang kerap datang tanpa tau waktu ini, kelak aku akan membutuhkan rengkuhmu untuk menemaniku tersenyum setelah menyelesaikan segalanya. Aku tau dalam hal ini kita mempunyai pendapat yang berbeda, tak apa. Maafkan aku yang tak bisa selalu memenuhi mau dan inginmu, terutama tentang kalimat yang tersusun, juga tentang perhatian yang kadang tak utuh, cukup perhatikan bagaimana kepercayaanku yang selalu ku sandingkan dengan hari-harimu. Aku memberimu ruang yang begitu luas untuk memaksimalkan tugasmu sebagai seorang anak muda yang ingin menyempurnakan diri, lepas dari kungkungan karena kuingin kau menjadi pasangan. Jahatkah perlakuanku?

Disaat yang tepat akan ada penjelasan yang akan menggugahmu. Sekali lagi, maaf jika orang bodoh ini belum mempunyai pembuktian tentang rasa. Biar aku yang mencitamu dan memupuk harapku sendiri, berusaha sekerasnya untuk bahagia seutuhnya.

Maksudku, bahagiamu.

Iklan

5 tanggapan untuk “?

  1. 👍

    Disukai oleh 1 orang

  2. 👍
    sesekali mampir

    Disukai oleh 1 orang

    1. Silahkan duduk, mau disuguhkan kopi? 😅

      Disukai oleh 1 orang

      1. hahaha 😄😄

        Disukai oleh 1 orang

      2. Jangan bosan mampir yah 😄😄

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close