Bertemu rindu lama (melupakan adalah usaha paling sia-sia)

Pernahkah kalian menemukan diri sedang jongkok di sudut ruangan gelap, dan sibuk mengutuk-ngutuk kenyataan atas sebab masalalu yang telah hilang ternyata tak bisa pergi seutuhnya dari ingatan. Jika kita sama-sama pernah merasakannya, ataupun sedang dalam masa itu, silahkan simak catatan tidak penting ini.

Pendekatan,saling mengenal,berteman,pacaran,putus,musuhan,pendekatan,mengenal lagi … … …

Siklus aneh diatas memang sangat riskan jika kita pandangi dan bisa dengan sangat pasti kita bantah dengan berbagai macam kalimat. Tapi, bukankah benar begitu kenyataan kebanyakan hidup masa muda? Fase yang paling kurang menyenangkan disini adalah pasca putus dan berusaha melindungi hati dari jatuh terlalu dalam di kubangan luka. Baik, jika kita tulis catatan dari sudut pandang “pelaku”, pasti yang menjadi korban mempunyai keberatan yang sangat banyak tentang hal itu, begitu pula sebaliknya. Ah mari kita bahas dari sudut pandang pendengar cerita. Putus dari hubungan yang sebenarnya juga tak punya titik kebenaran didalamnya itu agak sedikit aneh bagi saya, yang notabene juga pernah merasakannya. Kita sibuk memperhatikan orang lain, entah dia punya keseriusan yang sama atau tidak, intinya cinta saja. Dan ketika berakhir, kita akan sibuk menyalahkan hal yang menjadi alasan awal kita memulai, Cinta. Bukankah dari setiap pertemuan menjanjikan perpisahan yang pasti? Kenapa kita ingin berpisah? Kenapa harus bertemu? Jawabannya mungkin sama saja. Proses yang menyakitkan dalam hal ini, adalah usaha untuk melupakan. Padahal bagi saya, tak ada hal yang sudah pernah terjadi dapat kita lupakan dengan pasti. Ingatan hanya berisi kertas-kertas tua yang tersusun rapih dalam lemari yang setidaknya juga sudah tua. Tak ada tulisan yang dapat kita hapus begitu saja di kertas itu, harapan satu-satunya yang dapat dilakukan adalah menulis tulisan baru di kertas yang tentunya juga harus baru. Karena saat kita mencoba untuk utuh menghapus tulisan yang telah tertulis, akan ada masa dan suasana yang membawa kita untuk kembali bersua dengan kenangan. Rintik hujan di saat senja, hembusan angin dan derai ombak saat menunggu fajar, gugusan gemintang yang membawa lelap dalam lamunan atau hal-hal lain yang pernah membawa kita tersenyum dipeluknya, takkan pernah bisa dihapuskan hanya dengan kata-kata semata, ataupun atas campur tangan waktu. Kita harus berani mencari kertas baru, memilih pena baru, dan mulai menulis kisah baru sembari tetap berjalan menerjang segala ketidakpastian dalam hidup. Bukankah itu tugas paling dasar yang dimiliki manusia? Kau boleh saja sedih, boleh merengek-rengek dalam tangis, boleh mengutuk-ngutuk dia yang menjadi pelaku, boleh mencari pelampiasan disegala hal yang ada, tapi pada ujungnya kau akan tetap menemui kenangan. Dan disaat kau bertemu dengannya, sementara belum ada yang kau tulis di kertas yang baru sebab terlampau sibuk menghapus tulisan-tulisan lama, siap-siaplah diperbudak oleh rindu. Rindu yang dulu disapa dan berbalas, yang kini sendirian kau rasakan. Apalagi ketika sedang iseng mencari kabarnya lalu menemukan bahwa telah ada hati lain yang menemaninya tersenyum saat ini. Sakit bukan?

Memang semua butuh waktu, tapi kebahagiaan takkan datang jika waktu yang kau habiskan hanyalah menyoal usahamu melupakan. Kebahagiaan harus ditemukan, bukan ditunggu dengan murung bersama luka. Dan yang paling paham tentang apa sebenarnya bahagia yang kita cari, bagaimana sebenarnya bentuk senyuman tulus yang dapat dilukiskan wajah lugu kita, adalah diri kita sendiri. Kelirukah? Jika tidak, berarti kita sudah agak sedikit sepaham tentang sedih yang dimaksud dalam tulisan ini.

Tulisan ini bukan maksud memaksa kalian untuk menjadi hebat dalam menemukan kebahagiaan, ini semacam pengingat saja yang tentu juga kuingati pada diriku sendiri, bahwa melupakan bukan perihal cara, tapi berbicara tentang kemauan kita untuk melihat diri kita bangkit dari kegelapan nurani yang sejatinya begitu amat menyiksa, dan mulai melangkah ke arah cahaya, dimana jalan yang akan kita pilih akan lebih jelas terlihat. Hidup butuh warna, ceria juga butuh nyawa, jangan pernah betah dalam luka karena hidup yang berisi kumpulan ingatan dan kenangan dalam tumpukan kertas itu, harus disimpan dilemari usang bernama Ikhlas. tulislah kisahmu menggunakan pena yang tintanya berasal dari jiwa yang siap untuk bertemu bahagia. Kita berhak bahagia, dan kehidupan bersama segala isi didalamnya hanya mampu kita syukuri, mencaci takdir hanya akan membuatmu lebih lemah dari sebelumnya. Berbahagialah, tersenyumlah.. Dunia butuh senyummu agar tetap menjadi tempat yang nyaman bagi semua kehidupan~

Salam hangat, Aim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close