Coba pikirkan lagi

Rasa sakit, kehilangan, perih dalam dada, baik itu alasannya rindu yang tak terbalas ataupun penghianatan hati yang sudah lama kita jaga agar tetap baik-baik saja akhirnya pun kembali hancur dengan sengaja. Sedang apa sebenarnya waktu dan semesta, bukannya sedari awal seusai patah dulu, kau dan waktu telah ambil kesepakatan untuk tidak akan saling menyakiti?

Begitulah, manusia suka sekali mencari kambing hitam dalam setiap rasa sakit yang jika kita telaah dengan bijak, penyebabnya adalah laku dan perbuatan kita sendiri yang menjadikan alur hidup semakin kabur saja.

Sulit menatap arah tujuan yang semakin lama jalan menujunya pun semakin sepi bahkan cenderung terjal dan menyakitkan. Bayangkan saja, semua rekayasa kita sibuk ciptakan agar seolah-olah kitalah yang paling tersakiti dalam dunia ini. Sebagai salah satu mahluk ciptaan yang diberikan hanya secuil kelebihan dibanding mahluk lain, kita agak picik bukan? Ayolah, coba akui saja.

Rindu yang tak berbalas. Yang jadi pertanyaan kemudian, sejak kapan rindu harus menuntut balas? Kau yang sibuk menumpuknya di ruang-ruang hati, namun kau pun ingin agar orang lain melakukan hal yang sama? Kawan, tenang saja, aku pun pernah merasakan hal itu. Tapi, coba kita pikirkan lagi, apa keuntungan yang kita dapatkan jika rindu itu berbalas? Jika kau mengatakan agar hatimu pun ikut merasa tak sendiri memendam rasa, jika kau berdalih agar hatimu pun menjadi tenang karena rindu yang kau miliki dipunyai juga oleh hati yang kau pilih, artinya yang kau pendam dalam hatimu mungkin hanyalah sabotase berbalut hasrat serba berbalas yang dilakukan pikiran dengan begitu apik. Mengapa ku katakan demikian? Letak segala kenangan itu bukan di hati (meski ini banyak yang akan bantah) melainkan di pikiran, entah memakai perantara apa, kedua hal ini selalu saja saling mempengaruhi, namun sayangnya dalam rindu kali ini, itu murni dari pikiranmu saja. Kau terlanjur melukis rindu di atas kanvas bernama rasa, kemudian berharap setiap orang jatuh hati saat melihat lukisan itu. Jika memang rindumu murni dari dasar hati, kau akan memendamnya hingga keluar perlahan saat perjumpaan tiba. Bukan dari kata-kata yang sering lidahmu rangkai, tapi lewat rengkuhan dan berdiam diri dalam pelukannya. Merasa debar dadanya, rambutmu di belai mesra oleh tangan lembutnya, sementara kau akan tetap terpaku sambil tak kalah kuat memeluk tubuhnya. bukankah tak ada yang lebih indah dari hal itu?

Layaknya rindu yang diperjuangkan nelayan kepada ikan-ikan di laut lepas, kurasa takkan mungkin nelayan mengirim pesan kepada ikan dan membuat janji temu, namun mereka (nelayan) akan melaut dengan setumpuk harapan di pundaknya yang di titipkan oleh anak istri dirumah, pun pedagang ikan yang sedang menanti mereka dengan penuh duga-duga di dermaga. Beserta keyakinan bahwa segala usaha takkan berakhir di kalimat sia-sia, jika kita sandarkan harapan di tempat yang tepat. Tak sulit bukan memahami, bahwa sebenarnya tak pernah ada rindu yang menuntut balas, rindu itu menuntut usaha dan keyakinan untuk bertemu, bukan sekedar balasan yang semu.

Kemudian, kehilangan. Kau tahu? Bagaimana sedihnya ranting pohon ketika buah yang telah lama di genggamnya secara sukarela, menyalurkan nutrisi yang dibutuhkan agar si buah mampu ranum di waktu yang tepat, akhirnya jatuh ke tanah dengan pasrah sebab hempasan angin, ataupun dipetik sengaja oleh petani yang sedari lama menantikan kehadirannya. Namun, si ranting tahu dia takkan berjuang sendiri untuk membesarkan pucuk bakal buah yang baru, dan sesaat sebelum melepaskan, terdapat senyuman bangga dari sang ranting, karena berkat apa yang dia lepaskan, tercipta rasa syukur di hati pemiliknya. Sederhana bukan tentang melepaskan? Karena hakikatnya, segala milikmu hari ini hanyalah titipan hasil belas kasih semesta, untuk apa kau tangisi hal yang kau tahu suatu saat akan diambil pemiliknya? Ayolah kawan, hidup bukan hanya tentang kesedihan saja, kau harus belajar banyak pada ranting yang tabah, tadi.

Rasa sakit sebab janji yang dihianati. Mengapa ini menjadi hal terakhir yang kubahas? Sebab ini mungkin akan sedikit menguras tenagaku untuk memikirkan cara terbaik untuk menjelaskan. Setiap janji yang telah disepakati dan berujung berlalu bersama penghianatan itu adalah kepedihan yang nyata. Takkan ada hati yang biasa-biasa saja dalam menghadapi fase bajingan ini. Namun, mari kita belajar bersama cara untuk mengatasi, atau setidaknya merangkum semua itu menjadi hal yang suatu saat nanti bisa kita nikmati, dengan senyuman termanis bersama hati baru yang telah dipersiapkan sebagaimana rupa oleh Sang empunya cinta. Teruntuk luka dan tangismu kemarin, kau punya dia yang tak pernah lelah membuat kenangan-kenangan indah baru yang mungkin sederhana, namun dari keikhlasannya menyembuhkan lukamu, kau mengerti satu hal; alam raya mengirimkan luka hanya untuk hal-hal baru yang lebih indah. Bukankah yang senang melukai memang tak pantas di jadikan alasan suatu perjuangan? Mimpi bahagia baiknya kau titipkan pada hati yang siap membersamaimu di situasi apapun, entah itu kecewa yang meradang maupun bahagia yang penuh tawa riang, dia akan selalu enggan meniada. Bersamamu adalah buah dari do’a, dan membahagiakanmu adalah tugas utama. Bahagia sederhana itu, adalah kau yang dibuat senyum di awal membuka mata, sampai saat malam telah terbit di ranjang empukmu, kau masih saja tersenyum sembari mengucap syukur;

“Terimakasih, telah menerangkan arti bahagia walau harus melalui segala airmata. Hari ini, aku paham maksudMu”

-Aim-

Kau bisa mencipta luka, harusnya kau pun tahu cara menyingkirkan airmata, tersenyumlah

Satu tanggapan untuk “Coba pikirkan lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close