Jelita III

Pagi yang cerah, hal yang baik tentunya untuk memulai hari dengan harapan besar, bahwa mungkin saja kebahagiaan akan hinggap di hidupnya, entah tengah hari, petang nanti, atau barang kali saat gelap tengah menyelimuti bumi.

Tentu harap ini sangat pantas, mengingat betapa sulit tuk menemukan alasan sebuah senyum tersimpul dibibir tipis Jelita, akhir-akhir ini. Sekilas terbesit di ingatan tentang seorang Pria yang ia kenal dan sempat memujinya secara gamblang saat tak sengaja bersua di Coffeeshop langganan Jelita, dan akhirnya menemani Jelita duduk menikmati kopi, malam Sabtu kemarin.

“Cewe itu gak baik murung terus”
“Datang-datang nyerocos aja kamu”
“Sudah murung, sendirian lagi. Double Espresso kamu makin pahit liat kamu murung plus kesepian”
“Sok tau”

“Yasudah aku temani, sambil memaniskan malam kamu. Bro, pesanan biasa cuma malam ini usahakan max stroongnya, gak usah pake kental manis atau gula. Disamping gue ada wanita yang paling manis seruangan ini” sambil teriak ke barista yang berada sekitar 5 meter dari arah mereka

“Ssssstt” Jelita agak kaget sebelum akhirnya tersenyum menandakan maaf buat pengunjung lain yang nyatanya juga kaget dengan ulah Pria ini, Akhirnya semuanya tersenyum bahkan ada yang melengkingkan suara dalam tawa

“Nah, sempurna manisnya kalo gitu”

“Dasar mahluk astral, malu-maluin aja”

“Malu kan cuma keselip L, kata yang benar itu mau” sembari terkekeh menatap wajah Jelita yang kian merona merah

“Haduh, dasar laki-laki” menunduk malu tanpa henti tersenyum

“Hahaha tapi kamu suka kan? Maksudnya masih normal kan, suka laki-laki?”

“Gak, aku gak normal”

“Dasar wanita”

Kemudian mereka berdua sama-sama tertawa kecil, dan larut dalam percakapan hangat malam itu. Jelita ditemani, bahkan senyum beberapa kali singgah di bibirnya. Seakan melupa beban pikiran sejenak, hanya saat bersama Pria itu.

Malam kian larut, kopi tak berampas menyisakan tegukkan terakhir untuk mereka berdua, seiring semua luka berhasil juga terampas. kita semua tahu sebagaimana pahitnya espresso bahkan double press, tapi sudah biasa disesap oleh seorang perempuan bernama lengkap Jelita Rainy Satriadji, ini.

“Ainy.. turun sarapan dulu” Sahut bunda dari ruang makan, melenyapkan lamunan menyenangkan pagi itu.

Setelah secarik senyum terlempar keluar jendela, Jelita bergegas mengamini keinginan Bunda. Mereka pun duduk sarapan tanpa ada yang berbicara satu sama lain, seakan masing-masing memiliki dunia sendiri-sendiri.

Jelita adalah anak yang terlihat sangat cantik sedari awal ia keluar dari rahim Ibunda. Sebab itulah kata “Jelita” menjadi nama awal yang diberikan Ibu, kemudian ayah menambahkan kata “Rainy”. Sejarahnya, malam itu 7 Desember 1997, Ia menerjang hujan, mengendarai sepeda motor, berboncengan dengan Ibu yang telah dekat kontraksi. Kuyup baju mereka berdua ketika tiba di depan RS. Permasyuri, Kota Jogja. Anak pertama, sekaligus menjadi anak terakhir yang dimiliki pasangan Fitria Santoso dan Pandu Satriadji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close