Mengapa?

Napas takkan berhenti hanya jika temu berubah pisah

Serpihan penyesalan mulai sering ku baca dari setiap tatapmu, tersirat dan melesat masuk menuju sanubari.

Tunggu. Bukan itu saja, tenanglah aku akan mencoba merunut segalanya agar kita semua bisa (mampu) sepaham. setidaknya kebodohan itu kita buang dulu untuk sementara, hanya sampai tulisan ini selesai.

Setiap cerita selalu memiliki akhir, dan ketika kau tempatkan aku sebagai bagian dari skenario cerita hidupmu, setidaknya beri sedikit ruang untuk aku memberi masukan, entah itu berwujud lara atau marah.

Namun, yang menjadi kenyataan kini adalah kata pisah lebih mudah kau tulis dibanding kata cinta. mengapa? Aku. itu kan jawabanmu?

Memang begitulah aku.

Pengecut ini, yang selalu kau rayu dengan air mata adalah orang pertama yang tidak suka melihatmu menangis.

Pecundang ini, yang terlampau tega menyepelehkan lelahmu, adalah orang yang paling tidak tega melihatmu repot, bahkan untuk hal kecil sekali pun.

Tak sampai disitu, aku juga adalah si bajingan. Yang selalu tak terima ketika orang lain mencoba menjatuhkanmu.

Jatuh? Sepeleh? Repot? Menangis? Akhirnya aku pun yang kau katakan menjadi alasan dari setiap rasa itu.

Lantas, siapa yang harus ku benci saat ini?

Jangan jawab, kita tahu. itu pasti aku.

Selaras dengan runtuh dan luruhnya hatimu menuju palung menakutkan bernama kecewa, aku bersemayam di kuburan penyesalan.

Kau kira mudah? Tidak. Begitu rumit jalan yang ku pilih, bahkan hanya untuk bertemu saja sudah kau bentengi dengan gengsi.

Rindumu jadi murah

Cintamu jadi muram

Sayangmu jadi musnah

Kau, adalah keinginan yang terlampau jauh kuletakkan di harapan

Kau, adalah kesedihan yang berwujud kebahagiaan

Kau, adalah pencuri. Hati? Bukan. Janji !

Untuk apa kau pergi dengan menenteng janji yang pernah kau minta aku sepakati?

Lantas, kini aku harus menghujat aku.

Sebab dulu kau katakan kita tak akan sempurna jika tanpa aku.

Kini aku pergi, menemani kata pamit yang kau sajikan sebagai hidangan pembuka luka yang begitu nikmat.

Waktumu tepat, kita memang tak bisa menjadi kita.

Kita adalah kau dan aku yang dulu pernah menjadi doa, yang kini tidak lagi di amini semesta.

Doa yang kau ganti, akan ku amini dengan begitu ikhlas.

Semoga aku bahagia.

Baik, jika bahagia yang kau maksud itu adalah tanpa melihat dan mencintamu lagi,

Tanpa memedulikan dan menutup mata untuk segala cerita,

Tanpa menikmati tubuhmu di pelukanku,

Tanpa mencoba mengusap tangismu dengan jemariku,

Tanpa menghapus Lipstikmu yang selalu mengganggu penglihatanku,

Tanpa mencoba menenangkanmu di kala senja tak seelok harapanmu,

Tanpa menuntutmu menjadi orang yang apa adanya,

Tanpa memengaruhi pikiranmu menuju hal-hal baik,

Tanpa menyiasati pertemuan dan waktu,

Tanpa pura-pura lagi memarahi hanya untuk dibujuk dengan peluk,

Tanpa segala sesuatu yang pernah kau katakan kenyamanan,

Aku akan mengiyakan segala “tanpa” itu.

Jangan tanya apapun lagi, sebab tak ada jawaban yang membuat tingginya ekspektasimu mampu ku gapai.

Oh ya, satu saja mengapa” yang ingin ku titip sebagai bekal perjalananmu menjauh

Mengapa kau hadir hanya sebagai ‘koma?’ Padahal aku pikir awalnya kau adalah ‘titik.’ Yang mengakhiri segala cerita dengan kesimpulan, tanpa jeda, tanpa singgah, tanpa penjelasan tambahan lagi.

Tak perlu dijawab, mengapa punyaku, semoga tak kau miliki juga nantinya, saat kau menjalani segala kisah dan kasih dengan hati yang baru.

Mungkin, sudah saatnya kau membuka hati pada manusia bajingan yang selalu membuntuti kisahmu denganku, bisa juga kau meminta bantuan darinya untuk menjawab mengapaku.

Sukses yah. Ku tunggu cerita tentang kisah-kisah bahagiamu dengannya dalam blog pribadimu.

Cukup sudah menulis tentang aku, sudah kujelaskan segalanya tentang aku, di atas.

Jika suatu saat kau lupa, silakan buka segala lukamu sebelum bersamaku.

Ingatlah siapa yang kau sebut penyelamat patah hatimu, kekasih mungkin namanya.

Sudah lupa juga, barangkali kau ingat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close