Teruntuk kekasihku, yang saat ini memanggil dirinya kekasih

Apa kabar?

Pedih pula-kah kau rasa ketika kita pisah?

Nyatanya, kau kini tertawa bahagia

Kau pergi

Tanpa meninggalkan sedikitpun kata

Melepas segala ikatan, memulai simpul baru bersama-nya: temanku

Lihat, yang kau cintai saat ini lebih-lebih dari pada aku, bukan?

Terima kasih

Kau telah sempatkan waktu senggangmu untuk mampir di hatiku

Kau hebat

Aku merangkai segala aksara hanya agar kata pergi tak sampai terucap

“Tapi aku tak pernah katakan pisah” katamu

Iya, memang benar. Namun, bukankah tak ada yang harus dipisahkan jika belum sampai bersatu?

Kita hanya kata semoga, yang di bisik semesta untuk bersama

Sewaktu-waktu, memang telah seharusnya kau meniada

Ah, tak apa

Bahagia saja dengan temanku itu

Dia juga baik

Sekiranya bisa, dari awal aku telah mengenalkan duluan dirinya, padamu

Biarkan aku tetap mengurung hati dalam sendiri

Agar pun tak ada percuma yang tersisa, seperti hari ini

Janji

Senyum

Tawa

Air mata

Melebur dalam bayang-bayangmu

Masih di sana tempatnya

Di lubuk terdalam hati, aku bersembunyi

Mencumbui dirimu sepuas-puasnya

Karena ku tahu, jika aku membuka mata

Aku akan kembali pada kenyataan yang sangat menyiksa:

Kehilanganmu

Hanya sebab, kebodohanku

Memutuskan jatuh pada peluk cintamu yang semu

Cemburu memburu setiap kata, malu merengkuh air mata

Aku ternyata, belum mampu melupa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close