Sepotong cerita beserta luka, nikmatilah

Kala itu, tak pernah sedikit pun terlintas ragu dalam setiap tatapanmu. Ada suatu kedamaian, juga bentuk kepastian yang ku dapati di kedua matamu. Bayangkan, bagaimana bahagianya aku ketika kata “pulih” telah ada di depan mata. Aku ingin menulis setiap jengkal bahagia waktu itu. Namun, tak jarang hal-hal indah yang pernah kau dan aku jalani justru menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja, saat ku coba bermain bersama kenangan di dalam hati. Menghancurleburkan segala imaji ketika ujung dari jalan hayalan adalah saat kau bersedia membunuhku dengan cara melenggang langkah pergi,

Dengannya.

.

.

Mari jeda.

Aku butuh beberapa kali menghela napas panjang untuk melanjutkan tulisan ini. Lagi-lagi harus ku ulangi kalimat yang memuakkan ini; “yang mudah datang, kan pula semudah itu pergi”.

Benar saja, mungkin waktu itu terlalu cepat dan terlalu berani. Atau pula aku yang terlalu memaksakan kehendak agar kau utuh menyelimuti nurani dengan hati yang jelas, tak pernah ada yang selembut hati milikmu. Yang pernah ku kira kan selamanya menjadi milik hatiku.

Asumsi awalmu ternyata menjadi kenyataan, aku menjadi orang bodoh yang dengan rela memberikan hati yang tak utuh, untuk sedia kau genapi dengan sungguh.

Padahal, yang kuharap kan sungguh pun tak urung jua sembuh dari luka yang di hadiah-i masa lalu.

Padahal kau hanya sibuk menyeleksi hati yang pantas dan tak pantas untuk sekedar kau singgahi, mencari kesejukan dan bebas menjauh di kala telah jenuh.

Kau pula sibuk mencetak sosok baru yang katamu, dia lebih pantas dan cocok untuk mendampingiku. Kini aku sadar, bahwa yang tertinggal sebagai penyesalan sampai saat ini, tak lain adalah karena terlalu lama menaruh sebingkis harapan di atas hatimu, yang untuk mengacuhkan harapan milikku pun tak ingin, apalagi untuk menuntunku menuju pulih?

Yang ada luka lebih besar dan parah tengah sibuk kau rajut. Tinggal menunggu waktu sampai kau berikan dengan rela padaku, tanpa ada sedikit pun rasa bersalah.

Ah, dulu kupikir kau tak se-bajingan itu

Saat ini, usai melunasi segala rindu dengan bahagia, tersadar bahwa kehadiranmu dahulu adalah pelajaran yang sungguh berharga, saranmu untuk menemukan hati lain yang lebih mampu meneduhkanku adalah tepat. Sama tepatnya kala kau lebih memilih dia untuk kau kenalkan ke Ayah Ibumu, di banding aku. Seseorang yang sampai kapanpun tak akan pernah mampu mencapai ekspektasi “cukup” dari mereka.

Selamat, kau telah berhasil menemui bahagia. Dan tetaplah selalu ingat, bagaimana cara agar bahagia yang tulus pula yang seharusnya kau beri pada pasanganmu kali ini.

Iya benar, dia temanku. Kini pun menjadi kekasih hatimu, kalian begitu serasi.

Jangan sakiti dia, dan kuharap dia pun takkan sampai hati mencederai hatimu.

Biarlah aku mencumbu bahagia yang sempurna tanpa perlu kau coba usik dan tanya. Dengan kekasihku, yang tak pernah henti ku syukuri atas kehadirannya dalam hidupku yang gelap dan gersang ini.

Sekali lagi, selamat..

Tinggal.

-Ai-m-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close