Aku ingin menamparmu dan dia

Renggutlah segala dariku asal aku masih bisa menulis, hidup masih terlalu baik jika tak di syukuri

Maaf, jika intensitas menelurkan karya agak tersendat belakangan ini, begitu banyak hal lain yang harus aku selesaikan” Ucapnya pada seseorang yang bahkan tak ia kenal.

“Jika itu lebih penting, ku doakan segala baik adalah hasil akhir untuk semua urusanmu” enter. Balasan terkirim di kolom komentar salah satu situs blog ternama

Sang penulis

Cerita yang hanya sia-sia, tulisan tak berguna, alur maju atau jungkir balik sekalipun takkan ada manfaatnya

Jika tanpa para pembaca

Untuk itu, standar kepenulisan yang kita punya harus terus di asah, tentu banyak metode, beda orang beda cara, tapi ada hal yang jarang di perhatikan oleh kebanyakan penulis, khususnya “Blogger” umumnya kita, pelaku media sosial yang katanya milenial.

Sadarkah kita, bahwa setiap hal, baik itu tulisan, foto, video dan lain sebagainya yang telah terbit di beranda setiap teman-teman kita, semestinya menjadi hal yang berguna, tentu tak melulu curahan hati pribadi, baiknya bubuhi solusi, tentu tak melulu selfie tentang riangnya hari, namun berbagi informasi, tentu tak melulu video lucu-lucuan, tapi tambahkan sedikit kalimat penjelas sebagai edukasi. Keselarasan antara beberapa hal di atas yang kadang sukar kita telaah sebelum di bagikan ke dunia ilutif bernama maya.

Kita menelanjangi diri di hadapan media, tak ada sekat sama sekali, antara yang jauh dan yang dekat, ataupun yang baikan dan yang musuhan.

Ekspresi yang keluar saja dapat kita kontrol, agar tak ada yang kurang simpati atau bahkan menaruh dendam, hanya karena lancangnya jari menari di layar gawai.

Setiap penulis (bagi saya setiap manusia adalah penulis) pasti lebih ingin berinteraksi sosial, dibanding tunduk pada media sosial. Hanya saja, dunia nyata saat ini semakin tak asik, benar bukan?

Ada benarnya, sebab kita telah menyatu bersama teknologi, ibarat pulpen dan tintanya, satu sama lain saling butuh. Ah atau kita saja yang candu terhadap teknologi?

Saya memulai tulisan kali ini dengan percakapan tak langsung, yang biasa terjadi di dunia bloger, disadari atau tidak, pengikut kita yang berjumlah puluhan atau ratusan itu setia menunggu tulisan kita

Puisi, prosa, sajak, cerpen, novel, atau beragam bentuk karya sastra lainnya yang biasa kita tulis ditunggu. Pasti.

Apa jadinya jika hal yang telah lama kita tunggu tak sesuai ekspektasi? Kecewa.

Satu kata yang menjadi momok bagi setiap penulis. Layaknya ada batasan, bahwa setiap karya yang kita posting harus baik dan sempurna.

Sebetulnya tidak demikian. Seperti petuah yang disampaikan seorang penyair tua, “biarkan kata menelanjangi dirinya, menari di setiap kalimat dengan leluasa”

Jadi, sudah baikkah tulisanmu selama ini?

Mari sama-sama berkaca

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close